Kamis, 08 Januari 2009

Tulang

Tulang normal terdiri dari lapisan tulang padat yang mengelilingi lempengan dan serabut tulang (tulang berongga) yang diselingi sumsum tulang. Ketebalan lapisan luar yang padat ini berbeda-beda pada setiap bagian rangka, sebagai contoh tulang tengkorak dan tulang anggota tubuh jauh lebih besar dibandingkan tulang belakang. Kekuatan rangka terutama dihasilkan oleh tulang padat ini, namun tulang berongga juga ikut berperan penting.
Penyusun utama tulang sesungguhnya adalah mineral tulang yang mengandung kalsium (Ca) & fosfor (P), dan protein yang disebut kolagen. Struktur tulang mirip beton untuk bangunan atau jembatan. Komponen kalsium dan fosfor membuat tulang keras dan kaku mirip semen, sedang serat-serat kolagen membuat tulang mirip kawat baja pada tembok.
Tulang adalah jaringan hidup yang harus terus diperbaharui untuk menjaga kekuatannya. Tulang yang tua selalu dirusak dan digantikan oleh tulang yang baru dan kuat. Bila proses ini, yang terjadi di permukaan tulang (peremajaan tulang) tidak terjadi, rangka kita akan rusak karena keletihan ketika kita masih muda. Ada 2 jenis sel utama dalam tulang, yakni osteokiast (yang merusak tulang) dan osteoblast (yang membentuk tulang baru). Kedua sel ini dibentuk dalam sumsung tulang.


Jenis-jenis Tulang
Tulang dikelompokkan menurut bentuknya menjadi :
- Tulang pipa
Contohnya tulang paha
- Tulang pendek
Contohnya tulang pergelangan
- Tulang pipih
Contohnya tulang bahu
- Tulang tak beraturan
Contohnya tulang rahang

Susunan Tulang Pipa
a. Epiphysis (kepala)
b. Metaphysis (batang)
c. Periosteum: lapisan tipis
d. Tulang yang keras dan pekat
e. Bagian yang lembut seperti spon
f. Rongga sumsum
g. Cartilage (tulang rawan)

Nama-nama Tulang pada Tubuh
1. Cranium (tengkorak)
2. Mandibula (tulang rahang)
3. Clavicula (tulang selangka)
4. Scapula (tulang belikat)
5. Sternum (tulang dada)
6. Rib (tulang rusuk)
7. Humerus (tulang pangkal lengan)
8. Vertebra (tulang punggung)
9. Radius (tulang lengan)
10. Ulna (tulang hasta)
11. Carpal (tulang pergelangan tangan)
12. Metacarpal (tulang telapak tangan)
13. Phalanges (ruasjari tangan danjari kaki)
14. Pelvis (tulang panggul)
15. Femur (tulang paha)
16. Patella (tulang lutut)
17. Tibia (tulang kering)
18. Fibula (tulang betis)
19. Tarsal (tulang pergelangan kaki)
20. Metatarsal (tulang telapak kaki)

Sudahkah kamu tahu ?
Tulang yang terkuat
Femur atau tulang paha biasanya dapat menyangga 30 kali berat seorang manusia.

Tulang yang terkecil
Tulang terkecil di dalam tubuh manusia ialah tulang sanggurdi (di dalam telinga) panjangnya hanya 2,6 – 3,4 mm

Tulang yang Terpanjang
Tulang paha ialah tulang terpanjang di dalam tubuh manusia. Pada umunya panjang tulang paha pada pria dengan rata-rata tinggi 175 cm ialah 48 cm.

Kesimpulan Tulang
Osteoporosis atau kekeroposan tulang adalah kondisi dimana tulang menjadi tipis, keropos, rapuh dan mudah patah. Kondisi ini terjadi sebagai akibat berkurangnya massa tulang (disebut osteopenia).

Puncak masa tulang terjadi sampai umur 30 tahun. Makanya depositi kalsium harus disiapkan sedini mungkin, agar saat kondisi puncak itu datang, kondisi tulang kita tetap bagus. Begitu memasuki usia 35 tahun, kecepatan pembentukan massa tulang lebih lambat ketimbang yang rusak. Tak hanya rupiah saja yang harus dikelola, tapi tulang juga.

Wanita memiliki kemungkinan lebih besar terkenan osteoporosis karena faktor hormonal, yaitu berkurangnya hormone estrogen begitu memaski masa menopause. Bukan hanya fakto kekurangan kalsium dan vitamin D yang memicu terjadinya osteoporosis. Faktor genetic, pengobatan untuk sakit astma, gangguan fisiologi, kafein, rokok, alcohol dan kurang olahraga bisa menjadi pemicu lainnya.

Abnormalitas
Massa kalsium dalam tulang mencapai puncaknya pada usia 35 tahun, setelah it uterus menurun yang berarti pula osteoporosis mulai mengancam. Bahkan proses degenerasi dikatakan lebih awal lagi, sehingga di usia 20 – 30-an hendaknya mulai bersiap-siap menjaga kondisi tulang.

Kekurangan kalsium dalam tulang memang merupakan proses alami yang sulit dihindari sejalan dengan bertambahnya umur. Semakin tua, semakin cepat tumbuh menyerap kalsium dari tulang sebelum sempat digantikan.

Begitu wanita mencapai usia menapouse, maka semakin menurun pula kadar kalsium dalam tulang. Diduga hal ini berkaitan erat dengan kemampuan tubuh mensekresi (menghasilkan) hormone ekstrogen. Hormon ini bekerja secara tidak langsung melalui pengaturan produksi hormon lainnya berdasarkan fungsi masing-masing. Pada wanita dewasa yang sehat sekresi hormone kalsitonin juga dipengaruhi oleh adanya hormone ekstrogen. Jadi, dengan menurunnya sekresi estrogen ini, pengendalian sekresi kasitonin pada sel padarafolikuler tiroid menjadi terganggu. Maka pengeroposan tulang lebih cepat terjadi pada wanita menopause.

Penyakit Tulang
Bila kelenjar paratiroid tidak menyekresikan hormone patatiroid dalam jumlah cukup, reabsorpsi osteositik dari kalsium yang dapat bertukar akan menurun dan osteoklas menjadi inaktif seluruhnya. Reabsorpsi kalsium dari tulang menjadi sangat tertekan sehingga kadar kalsium dalam cairan tubuh menurun. Karena kalsium dan fosfat tidak diabsorbsi dari tulang, tulang biasanya tetap kuat.
Bila kelenjar paratiroid tiba-tiba diangkat, kadar kalsium dalam darah turun dari nilai normal 9.4 menjadi 6 sampai 7 mg/dll dalam waktu 2 sampai 3 hari dari konsentrasi fosfat dalam darah dapa menjadi berlipat ganda.

Pengobatan Hipoparatiroidisme
Hormone Paratiroid (Parathormon). Hormon paratiroid biasanya digunakan untuk mengobati hipoparotiroidisme. Karena pemakaian hormon ini, karena efek hormone berlangsung paling lama selama beberapa jam, dan karena kecendrungan tubuh mengembangkan imunitas tubuh melawan hormon, mengakibatkan hormon secara progresif makin kurang efektif, sehingga pengobatan hipoparatiroidiisme dengan hormon paratiroid jarang dimukan dalam pengobatan saat ini.
Pengobatan dengan Vitamin D dengan Kalsium. Pemberian dalam jumlah vitamin yang sangat besar, sebanyak 100.000 unit sampai 2 gram akan dapat menjaga konsentrasi ion kalsium dengan kisaran normal.

Hiperparatiroidisme
Penyebab Hiperparatiroidisme biasanya adalah tumor dari salah satu kelenjar paratiroid. Hiperparatiroidisme menyebabkan aktivtas osteoklastik yang berlebihan dalam tulang. Penyakit tulang pada Hiperparatiroidisme.

Pada Hiperparatiroidisme yang berat, absopsi osteoklastik dengan cepat jauh melebihi pengendapan osteoblastik dan tulang dapat dimakan hampir semuanya. Seorang penderita hiperparatiroidisme sering mencari pengobatan akibat patah tulang.

Faktur yang multiple dari tulang yang sudah lemah dapat disebabkan hanya oleh trauma yang ringan, terutama bila kista terbentuk. Penyakit tulang kistik akibat hiperparatiroidisme disebut osteitis fibrosa kistika.

Aktivitas osteoblastik pada tulang juga sangat meningkat sebagai suatu usaha untuk membentuk tulang baru dalam jumlah cukup untuk menggantikan tulang tua yang diabsorbsi oleh aktivitas osteoklastik.
Penyakit Rickets
Efek penyakit rickets pada tulang. Selama terjadi penyakit rickets yang alam, kompensasi peningkatan sekresi hormon paratiroid yang nyata akan menyebabkan absorpsi osteoklastik yang belebihan dari tulang.
Osteoblas ini menjadi dasar timbulnya banyak sekali osteoid yang tidak berkalsifikasi sebab kadar ion kalsium dan fosafatnya tidak cukup. Osteoid yang baru dibentuk, tidask terkalsifikasi, dan lemah secara bertahap menggantikan tulang yang lebih tua yang telah direabsorbsi.

Osteoporosis
Osteoporosis adalah penyakit tulang paling umum pada orang dewasa, terutama pada usia tua. Osteoporosis merupakan jenis penyakit yang berbeda dengan ostomalasia dari rickets, penyakit ini lebih disebabkan oleh berkurangnya matriks organic daripada kelainan kalsifiaksi tulang. Pada osteoporosis aktivitas osteoblstik pada pengendapan tulang menurun. Penyebab berkurangya tulang ini adalah karena aktivitas osteoklastik yang belebihan.
Sebagai besar penyebab osteoporosis adalah :
1. kurangnya stres fisik terhadap tulang karena tidak aktif.
2. malnutrisi yang berlebihan sehingga tidak dapat dibentuk matriks protein yang cukup.
3. kurangnya vitamin C, yang diperlukan untuk sekresi bahan-bahan intraselular oleh seluruh sel, termasuk osteblas.
4. kurangnya sekresi estrogen pada masa postmenopause, sebaba estrogen itu mempunyai aktivitas perangsang osteblas.
5. pada usia tua, di mana hormon pertumbuhan dan faktor-faktor pertumbuhan lainnya sangat berkurang ditambah dengan kenyataan bahwa banyak fungsi anabolik protein buruk, sehingga matriks tulang tidak dapat diendapkan dengan baik.
6. penyakit Cushing, karena glukokortikoid yang disekresikan pada penyakit ini jumlahnya banyak sekali sehingga menyebabkan berkurangnya pengendapan protein di seluruh tubuh, dan meningkatkan katabolisme protein dan juga mempunyai efek khusus menekan aktivitas osteoblastik.


Penulis: Achmad Yulianto [01]

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar